Lembur Wirahman

January 24, 2007

Especially For You

Filed under: Curhat

4 hari setelah Bapak tiada, aku masih berusaha keras untuk mengalihkan energi sedihku jadi ibadah. Acara kangen2an dengan Allah Swt sekarang juga berarti kangen2an dengan Bapak, bedanya kalau ke Allah Swt aku memohon, kalau ke Bapak aku mengirim. Sambil berdiang nasi masak, sambil membaca Surat Yaasin berarti aku bertilawah berarti juga aku berlatih tahsin. Tahsin…jadi kangen sama guru2ku yg cantik ini, dan yang ini.

Sebetulnya hari ini udah hampir berhasil mengalihkan semua energi sedih itu menjadi doa. Sebelum makan malem, sempet nemenin anak2 nonton tv, yg tumben2an nonton MTV, pas yang ditayangin lagu “Hurt”nya Christina Aguilera, baru mulai. Tumben juga aku nyimak liriknya kata per kata & ngamatin video clipnya. Serendut…lagu ini pas banget. Bapak, lagu ini dari aku yg pernah sangat mengecewakanmu. Aku cinta Bapak, aku sayang Bapak, aku harap Bapak udah maapin aku…

January 20, 2007

Selamat Jalan Pahlawanku

Filed under: Curhat

Perih ini tak bisa aku gambarkan dengan kata2. Betapa perihku mengingat aku tak sempat merawat beliau di hari2 terakhirnya, betapa aku tak sempat memeluk & menciumnya, bahkan hanya menatap wajah pucatnya sebelum dimasukkan ke liang lahat, betapa jauh & tak berdayanya aku untuk sekedar mengantar jasadnya di peristirahatan terakhirnya…
Allah Maha Pengasih, Dia sangat mencintai ayahku, hingga Dia memberi skenario hidup seperti ini buatku. Allah Swt tak mengijinkan jasad Bapak dihujani oleh airmataku, diratapi oleh tangisanku, yg hanya akan memberatkan langkahnya, dan itu sangat mungkin terjadi apabila aku masih di Singapore. Allah Swt menginginkan aku jadi anak sholeha Bapak, yg tidak meratapi & membasahi jasadnya dengan airmataku, Dia menginginkan aku menghujani Bapak dengan doa, doa dan doa.

Bapak, maafkan aku tak bisa ada di sisimu di saat2 terakhirmu. Aku berjanji untuk menjadi anakmu yg sholeha. Saat ini pun yg menjadi motivasi untuk aku tetap berusaha menjalani hidup secara normal semata2 adalah usaha menjadi manusia sholeha, anakmu yg sholeha, yg doanya tidak terbatasi oleh apa pun, Insya Allah. Ayahanda Sutrisno Setyowiyono, namamu terukir dengan tinta emas di benak putrimu selamanya.

Tembakan salvo dalam upacara kemiliteran yg menyertai pemakamannya hanya dapat aku dengar lewat telepon. Entah kapan aku bisa mengunjungi pusaranya di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Hanya doa yg tak putus & Insya Allah tidak berbatas yg bisa aku hantar. Selamat jalan Bapak, selamat jalan motivatorku, selamat jalan pahlawanku tercinta…

Ya Allah Yang Maha Pemurah, ampunilah dosa2 bapakku, lipatgandakan catatan amal baik & ibadahnya, muliakan tempat kembalinya, terimalah dengan penuh kasih sebagaimana Engkau menyambut jiwa yang muthmainah. Jadikanlah dia ahli surga yang kekal dan abadi, pertemukanlah aku dengan almarhum di surgaMU kelak…Amin yaa rabb

January 7, 2007

Undangan Amat Sangat Spesial Sekali

Filed under: Curhat, Ngedongeng

Awal Tahun 2006

Percakapan di sebuah meja di sebuah foodcourt di dalam sebuah neighbourhood mall.
Istri : A’ tahun ini musim haji bertepatan dengan libur panjang anak2 lho
Suami : O ya?
Istri : Kita berangkat ibadah haji yuk, anak2 kita titipin di Bandung
Suami : Kita lihat aja nanti ya, sayang….

Si istri cuma bisa berdoa, semoga ‘nanti yg akan dilihat suaminya’ itu berarti mereka bisa beribadah haji bersama di akhir tahun nanti….


Pertengahan April 2006

Percakapan siang hari di kamar tidur anak2 perempuan di sebuah flat di Singapura.
Suami : Ling, mau nggak pindah ke Riyadh?
Istri : Kenapa nggak?
Suami : Betul?
Istri : Iya

Mereka pun berpelukan. Kebahagiaan memenuhi hati mereka. Untuk si suami, hal yg sangat berlawanan pernah dihadapi 7 tahun sebelumnya, ketika si istri menolak dengan sangat keras tawaran menarik yg diberikan kepadanya untuk posisi bagus di Riyadh juga, hanya karena sang istri sangat mengharamkan negeri itu utk dijadikan tempat tinggal mereka walaupun sementara. Tapi itu dulu. Sekarang si istri begitu antusias, karena pindah ke Riyadh artinya mendekati Baitullah, bisa mengunjungi kiblat, yg setiap harinya minimal 5x dia menghadapkan diri, wajah, hati, dan pikirannya kepadanya. Allah Maha membolak-balikkan hati….

Akhir November 2006

Percakapan malam hari di meja makan di sebuah villa cantik di Riyadh.
Suami : Ling, maaf ya, kayaknya kita belum bisa berangkat haji tahun ini
Istri : Kenapa?
Suami : Aa harus standby di Riyadh. Moga2 tahun depan kita bisa berangkat sekeluarga. Entar bulan Januari aja kita umroh dulu.

Sang istri hanya bisa pasrah, dia sadar sekali bahwa suaminya masih orang bayaran. Tapi dalam hatinya hasrat untuk melaksanakan ibadah haji segera tidak pernah padam…


17 Desember 2006

Percakapan di telepon sang istri dengan Ulfa, sahabatnya sejak di Singapura, berikut penggalan pentingnya.
Istri : Gimana persiapan berhajinya?
Ulfa : Kenapa? Berminat?
Istri : Emang masih bisa?
Ulfa : Masih, kebetulan ada beberapa orang yg mengundurkan diri
Istri : Nyaris mustahil. Suamiku kan nggak bisa berangkat, pasti nggak gampang dapet ijin dari dia yg orangnya kuatiran kayak gitu
Ulfa : Barangkali mau, sekarang hari terakhir pendaftaran setau aku
Istri : Waduh, jadi tergoda. Padahal sebetulnya tujuan nelepon untuk nawarin barangkali mau nitipin anak2 di rumahku selama berhaji
Ulfa : Terima kasih sekali. Aku cuma ngasih info lho.
Istri : Makasih sekali infonya. Aku coba ngerayu suamiku ah, kali aja diijinin.

Segalanya sangat dimudahkan bagi si istri. Sang suami mengijinkan, proses pendaftaran sangat cepat & lancar, bahkan sang pemimpin rombongan pun terheran2 menyaksikan begitu cepatnya proses pendaftaran terjadi, mengingat tidak sedikitnya persyaratan yg diperlukan & semuanya perlu waktu untuk diselesaikan.

Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu. Sungguh Engkau Maha Kuasa & Maha Pemurah, hanya dengan kuasaMU segalanya terjadi. Insya Allah aku berangkat berhaji tanggal 27 Desember 2006 dengan rombongan dari Kedutaan Besar Malaysia di Riyadh.
Aku datang ya Allah….aku datang memenuhi undanganMU…

November 7, 2006

Medical Report

Filed under: Curhat, Ngedongeng

Waktunya ngambil medical report. Appointment jam 2 siang dengan dokter yg bakal ngevaluasi hasil medical check up aku & anak-anak, ngisi form yg disediain sama Saudi Embassy terus ngasih rekomendasi ke pemerintah Saudi bahwa aku & anak-anak memungkinkan atau nggak jadi penduduk Riyadh.

Jam 1.15 anak-anak baru pulang sekolah semua. Buru-buru aku ngedandanin & nyuapin Alita, sambil nunggu Dzaky ganti baju & makan. Beres. Waktunya Athaya…wayooo…my little princess satu ini ketiduran dengan nyenyaknya di sofa lengkap dengan baju olahraga sekolahnya & sepatu. Waduh, udah jam 1.45, ngitung2: mbujuk supaya Athaya bangun bisa makan waktu 5-10 menit, ngegantiin baju & nyuapin (cara tercepat, kalo suruh dilakukan sendiri bakal lama) minimal 15 menit, belum lagi nunggu taxinya, belum lagi di jalannya. Alamat nggak keburu. Akhirnya aku nyoba telepon ke clinic, kali aja aku dapet kemudahan untuk ngegeser waktu, dan mereka bisa mendahulukan customer yg lain kalo ada. Sayang sekali, 5x aku telepon, 5x juga ndenger nada sibuk.

Howkeyh…usaha lagi, bangunin Athaya… pake koor dengan Dzaky & Alita. Yes, bangun! Ngedandanin & nyuapin Athaya (cara tercepat), tetep, jam 2 udah terlewati. Mental untuk ketemu dokter udah siap, penampilan & perut udah sip, oke…coba aja berangkat, kita lihat apa yg bakal terjadi, kemungkinan terburuk kalo nggak bisa ketemu dokter, kita bisa makan sushi halal yg jaraknya cuma sekitar 1 km dari clinic. Bismillah.
Tiba di clinic jam 2.40, sesuai petunjuk nurse minggu lalu, aku tinggal nyimpen kartu kita berempat di atas tray yang ada di depan Room 6, terus nunggu dipanggil. Tunggu punya tunggu, dokter masih ada di Room 6, customer lain udah nggak ada, jam 4 si nurse yg udah ngambil kartu kita tadi dateng ngedeketin aku,

Nurse : Sorry ma’am, you can’t see the doctor today
Aku : Pardon?
Nurse : You can’t see the doctor today, because you are late. You should have came at 2 pm.
Aku : *mulai marah* Excuse me? I don’t understand. Why did you make us wait? Doctor is still in and nobody queueing.
Nurse : Yeah, but he has many cases
Aku : But, did he read our report?
Nurse : Yes, but he has many cases
Aku : So, can I have our medical report now without seeing the doctor?
Nurse : Cannot. The medical report is not complete yet before you see the doctor

Wah, makin nggak ngerti deh aku, kalo report kita udah dibaca, dokternya masih ada di dalem ruangan, nggak ada customer atau pasien lain, kenapa nggak bisa lebih fleksibel, kan dia tinggal checklist aja form medical report yg dikasih sama Saudi Embassy. Lagian waktu tutup clinic masih 1 jam lagi.

Aku : Okay. So the appointment time is sharp at 2 pm?
Nurse : Yes
Aku : But you can’t guarantee if I come at 2 pm means we can see the doctor at 2 pm sharp, can you?
Nurse : Yeah, sorry you came late. So we arrange the new appointment. How about tomorrow?
Aku : *mulai sangat jengkel* I know I’m late, but I don’t understand about everything happen here. The doctor still in, me with my three kids are here and have been waiting for more than one hour. If you say the appointment time is sharp, why didn’t you call me at 2 pm? You have my contact number, do you? You can confirm with me whether I can come or not.
Nurse : Sorry ma’am, we never call to make confirmation
Si nurse masuk ke Room 6 dengan muka jutek, cuma 2 menit, terus keluar lagi,
Nurse : So, tomorrow you can come
Aku : *terlanjur marah beneran* No. It’s not that simple to come tomorrow. Can you see? ME AND MY THREE KIDS HAVE BEEN WAITING HERE FOR MORE THAN ONE HOUR!!!

Si nurse masuk lagi, terus keluar lagi

Nurse : So ma’am, I give you time for tomorrow at 11 am *pake gaya arogan & seolah2 ogah ngomong lagi*
Aku : You give me time??? You know, I gave this clinic more than $1300 in cash. You have my contact number, please…use it to make confirmation, don’t use it only for financial problems.

Aku ngambil kartu yg untuk ngambil medical report & ngeloyor dengan anak2 masih dengan napas ngos2an karena marrrraahhh. Sampai di pinggir jalan aku langsung telepon A’Bubun, curhat. Aduuuh…A’Bubun soeamikoe tertjintah emang super calm, aku yg lagi membara langsung nyes..nyes…nyes… Atas saran A’Bubun aku kembali ke clinic untuk nemuin duty manager. Masuk ke clinic aku langsung nemuin petugas counter pendaftaran (PCP)

Aku : Excuse me, ma’am
PCP : Yes?
Aku : Can I see the duty manager?
PCP : Regarding?
Aku : I want to clarify something
PCP : What is it about?
Aku : I had an appointment, but I was late for it. We had been waiting for more than one hour, the doctor is still in, but the nurse told us that we can’t see the doctor. What is the problem?
PCP : Okay, you take a seat, ma’am, I’ll handle it

Si PCP keliatan nelepon seseorang, nggak sampai 5 menit si nurse tadi dateng ke counter, lihat aku & anak2 dia keliatan bete banget. Sebentar kemudian aku dipanggil sama si PCP.
PCP : Ma’am, you can go to Room 7
Aku : *girang banget* Thank you, ma’am

Akhirnya kita bisa ketemu dokter tadi sore, bisa ngambil medical reportnya. Alhamdulillah. Pelajaran hari ini : Jangan cepet marah kalo ngadepin hal2 yg nyebelin kayak tadi, tetep tenang, berpikir proporsional, jalankan aturan yang berlaku, percuma otot2an dgn pelaksana, mending temuin pembuat keputusan. Makasih ya Aa sayang, muah…mmwuaaahhh…makin ingin cepet kumpul jadinya…

November 3, 2006

Banci Online Vs Penjahat Online

Filed under: Curhat, Ngedongeng

Aku tuh, persiiisss banget seperti yang aku sebutin tentang "about me" disini, hobi banget sama yg namanya berteman & berkomunikasi. Kalo kata bapakku, sifat ini udah nampak banget sejak aku balita. Aku hampir selalu menyapa duluan orang2 yg aku kenal, tua-muda, miskin-kaya, sehat-sakit, gendut-kurus, mulus-jerawatan…idih, ngelantur deh. Yang malu2in, kata beliau juga waktu masa balita itu aku sering ‘dipinjem’ tetangga yg belum punya anak atau anak2nya udah remaja, dan biasanya di rumah tetangga itu aku mau2 aja disuruh nyanyi, nari & bercerita. Iiiihhh…*nulisnya sambil nutupin muka nih*.

Masuk masa sekolah, pergaulan hanya di dalem kelas aja nggak pernah cukup buat aku. Sejak kelas 1 SD yang aku inget aku selalu ikut kursus berbagai tari tradisional, maunya semua dicoba, tapi mentoknya jatuh cinta sama tari bali dan aku tetap menari sampai kuliah. Menari memang salah satu hobi utamaku, tapi kembali lagi, datang ke tempat kursus, bertemu dengan teman2 peserta kursus itu tetap jadi penyemangat utama. Sejak kelas 3 SD aku juga ikut kegiatan Pramuka di Gugus Depan luar sekolah dan kegiatan ektra kurikulerku semakin hari semakin banyak, Pramuka, PMR & OSIS itu masa sekolah. Masuk masa kuliah, kegiatan di senat mahasiswa, berbagai unit kegiatan kampus, dan berbagai organisasi kepemudaan (FKPPI, KNPI, Karang Taruna) aku terjuni secara aktif, dan…tetep ikut kursus tari.

Kegiatan bersosialisasiku jadi jauh berkurang sejak ketemu dengan cowok cakep yang paling bisa bikin aku merasa bahagia karena dicinta. Ehm…ehm. Asik pacaran itu mungkin penyebab utamanya, tapi keinginan si doi itu juga jadi salah satu penyebab. Setelah cukup lama vakum berorganisasi, setelah punya anak 2, hasrat untuk bersosialisasi muncul lagi, dan untuk kondisi seperti aku yg tidak pernah diijinkan bekerja di luar rumah oleh A’Bubun, kayaknya yg cocok adalah bisnis MLM. Wuih…serasa dapet penyaluran yg pas, aku giat sekali mengembangkan networkku di bisnis itu. Walau aku pemakai produk yg dipasarkan oleh MLM itu, tapi jangan ditanya tentang spesifikasi produknya, gelap abis, aku lebih fokus ke networknya.

Lagi2 networking emoticon. Tapi akhirnya aku insyaf *berat banget bahasanya*, dan Allah memberi jalan, kami sekeluarga pindah ke Singapore, dan…aku jadi wanita rumahan yg urusan sehari2nya ‘cuma’ anak2, suami & rumah.

Alhamdulillah, walau jadi orang rumahan, aku masih bisa bersosialisasi. Sarana telepon, sms & internet betul2 aku manfaatkan. Makin hari aku makin terampil untuk memanfaatkan kesempatan. Biasanya aku aktif bertelepon saat anak2 sedang sekolah dan biasanya aku bertelepon sambil ngerjain kerjaan rumah, dengan fasilitas cordless phone atau kadang2 ditambah earphone, aku bisa bertelepon sambil masak, cuci piring bahkan ngepel. Untuk internet, biasanya aku panteng komputer 18 jam, volume speaker dibesarkan, supaya aku nggak harus duduk terus di depan komputer tapi tetep tau kalo ada email masuk atau ada panggilan utk chatting.

Menurut aku, sekali lagi MENURUT AKU, aku cukup adil membagi waktu & perhatian buat keluarga & teman2, jadi aku nggak pernah merasa bersalah kepada siapa pun untuk hobiku ini. Tapi lagi2 itu hanya menurut aku emoticon

Ternyata ada seseorang yang sangat merasa terganggu sodara2. Kalo A’Bubun sedang ada di rumah nih, aku nggak boleh ngangkat telepon, nggak jarang telepon berdering2 dan dia melarang siapa pun untuk ngangkat, komputer dimatiin terus, pokoknya tiap liat komputer nyala, dia pasti langsung matiin , kecuali kalo sedang dipake sama anak2, handphoneku di-set silent mode. Aduuuuhhhh…jengkel banget, padahal aku juga tau diri koq, akan njawab sms atau telepon kalo kondisinya memungkinkan. Yg lebih parah, dulu nih, dia paling ogah kalo aku ajakin ketemuan dengan temen2ku. Mending kalo dia ngelepas dengan ikhlas, ini sih ngijinin dgn muka jutek sambil langsung melakukan kegiatan menyenangkan dengan anak2. Seolah2 ingin bilang "silakan kalo mau bersenang2 dgn orang lain, saya akan menghabiskan waktu dengan anak2 tercinta". Bener2 bikin nggak enak, jadi berkesan seolah2 aku ini istri & ibu durjana, memiliki suami yg sangat baik dan penuh cinta terhadap anak2nya emoticon

Sekarang ini A’Bubun lagi seneng ngomong:

“Aa seneng banget kita mau pindah ke Riyadh, pasti Ling juga bakal seneng disana.”

Sampe aku bilang, aku nggak suka A’Bubun ngomong gitu terus, aku nggak ingin dia takabur, yakin bisa bikin aku bahagia dengan segala fasilitas yg udah dia sediain disana. Ih, jahat banget ya aku? Tapi iya kan, Allah Yang Maha Kuasa, DIA yg memiliki segalanya, termasuk yang menggenggam perasaanku. Kemaren aku baru dapet penegasan dari A Bubun tentang betapa semangat dan bahagianya dia untuk segera berkumpul di Riyadh.

Kan ceritanya kita sedang duduk mesra berdua *suit…suiwww* sambil ngeliatin anak2 asik bercanda A’Bubun bilang gini, “Ling, Aa hepi banget kita mau cepet kumpul di Riyadh. Inginnya sih kehidupan kita nanti isinya cuma kita dan anak2 terus, tapi kayaknya nggak mungkin ya? Ling nanti disana boleh berteman, tapi…please…temennya jangan banyak2 ya…” *ngelamun dan langsung gubrak*

October 13, 2006

Hidup Terpisah itu Perih, Jenderal…

Filed under: Curhat

Terpisah, berpisah, perpisahan kayaknya nggak pernah ada yg menginginkan, apalagi kalo dengan orang yg kita cintai. Janganlah bicara soal perpisahan dgn penyakit, utang, kesusahan, dll lho ya, itu sih semua juga ogah deh dipertemukan.

Udah hampir setengah tahun ini aku & anak-anak hidup terpisah dengan suami dan juga ayahnya anak-anak. Nggak full 5 bulan sih, 1,5 bulan sekali A’Bubun nengokin aku & anak-anak. Sampai saat ini semua berjalan sesuai rencana, aku ngejalanin hidup di negeri pulau ini dengan anak-anak sampai mereka menyelesaikan level/grade sekolah yg sekarang bulan depan, A’Bubun duluan pindah, nyiapin tempat tinggal & sekolah anak-anak di negeri baru itu, dan bulan depan atau 6 bulan setelah kepindahannya Insya Allah kami semua akan berkumpul di negeri padang pasir.

Rencana itu aku yg mencetuskan dan rasanya udah nyiapin mental untuk menghadapi segala resikonya. A’Bubun pergi dengan perasaan campur aduk, bahagia & semangat dengan pekerjaan baru di perusahaan baru dan di negara baru sekaligus sedih, kuatir & waswas meninggalkan aku & anak2 di negeri orang. Saat A’Bubun berangkat, aku berusaha keras untuk meyakinkan dia bahwa aku & anak-anak akan baik-baik saja karena kami menghadapi segalanya dengan penuh optimisme. Aku menolak tawaran A’Bubun untuk mempekerjakan seorang PLRT, karena aku yakin bisa menghandle semuanya, toh aku udah punya part time maid yg ngebantu nyetrika baju & bersih-bersih rumah, aku juga nggak perlu masak karena aku punya katering langganan yg ngirim masakan setiap hari kecuali sabtu & minggu. Dalam pikiranku, aku bisa menghandle segalanya, karena aku juga punya kawan-kawan dekat yg baik dan sangat bisa diandalkan di saat-saat yg tidak menguntungkan.

Semangat & optimismeku mulai rontok, tak berapa lama setelah kepergian A’Bubun ke negeri yg baru, teman-teman dekatku yang sangat baik & sangat bisa diandalkan, nyaris berbarengan pergi meninggalkan negeri pulau ini. Yahh…hidup terpisahku baru dimulai. Aku harus selalu berkompromi dengan diri sendiri manakala keletihan menghadapi anak-anak 24 jam sehari, 7 hari seminggu seringkali menggiring aku untuk meledak kapan saja. Aku juga harus berusaha memapah langkah sendiri ke tempat yang aman saat serangan pingsanku tiba-tiba datang, walau beberapa kali aku terbangun sedang terbaring di lantai dapur, menyandar lemah di wastafel kamar mandi, atau tertelungkup di atas karpet. Ya, aku pingsan tanpa seorang pun tahu…

Aku terpisah dari semuanya. Aku terpisah dari suamiku, dari keluarga besarku di tanah air, dari teman-teman baikku. Hari-hari aku jalanin dengan penuh (usaha untuk) semangat & ceria. Aku ingin anak-anakku melihat tidak ada yg berubah karena perpisahan yg walaupun sementara ini, sebetulnya sudah mulai menggerogoti semangat & optimismeku. Aku berusaha selalu memberi kabar terbaik kepada A’Bubun dan keluarga besar di tanah air, semata-mata agar mereka tidak kuatir. Yah…dalam perpisahan ini, aku selalu bersandiwara. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa aku optimis,bisa menghandle segalanya dan semua berjalan sesuai dengan rencana yang aku cetuskan…

Belajar Tanpa Tekad = Belajar yg Nggak Pernah Mulai

Filed under: Curhat

Sebel banget deh, aku tuh koq super duper pemales kayak gini ya. Kerjaan nontonin & ngagumin blog orang lain bener2 bikin aku makin minder nggak jelas utk bikin blog. Beberapa kali punya blog berakhir dengan blog yg membeku karena lupa password atau user id. Sekarang sih ceritanya udah bertekad deh, minder harus disingkirkan, lha wong blog itu kan sarana menumpahkan apa yg sedang melintas di kepala, lha kalo yg di kepala isinya cuma segitu2nya kan orang lain juga (koq orang lain sih?kan blog itu yg penting utk diri sendiri!) akan super maqlum.

Sebetulnya ingin bikin rumahnya bukan di kompleks ini lho (maaf blogsome…maaf banget), tapi berhubung disini ngeloginnya nggak ada masalah, ya udah…harus dibetah2in. Rumah kan bukan lokasinya yg penting kan, tapi penghuninya ngerasa homey ato nggak. Betul kan? Betul dong! Ya kan? Ya dong! Soal belajar bikin blog, kali Jeng Hany udah bosen deh sama requestku "ajarin ngeblog ya Han". Bu guru 1 itu emang luar biasa selalu semangat utk ngapa2in, bahkan ngajarin murid ‘kosong’ & pemales kayak aku. Tapi…mungkin karena tekadku nggak bulat, belajar bikin blog cuma jadi pending request belaka. Karena kurang tekad juga, belajar bikin blog itu jadi prioritas ke-116 *hiperbola mode on*, sementara si bu guru tetep membuka pintu kapan aja buat aku belajar. Payah…payah…dari dulu koq aku selalu jadi murid yg payah.

Muter2, kembali lagi, pokoknya kali ini aku ingin ngeblog beneran, nulis & nulis terus sebisanya apa yg ingin ditulis. Belajar emang nggak pernah kelar, selama hayat masih di kandung badan kita harus terus belajar, dan aku baru mulai belajar…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer