Selamat Jalan Pahlawanku
Perih ini tak bisa aku gambarkan dengan kata2. Betapa perihku mengingat aku tak sempat merawat beliau di hari2 terakhirnya, betapa aku tak sempat memeluk & menciumnya, bahkan hanya menatap wajah pucatnya sebelum dimasukkan ke liang lahat, betapa jauh & tak berdayanya aku untuk sekedar mengantar jasadnya di peristirahatan terakhirnya…
Allah Maha Pengasih, Dia sangat mencintai ayahku, hingga Dia memberi skenario hidup seperti ini buatku. Allah Swt tak mengijinkan jasad Bapak dihujani oleh airmataku, diratapi oleh tangisanku, yg hanya akan memberatkan langkahnya, dan itu sangat mungkin terjadi apabila aku masih di Singapore. Allah Swt menginginkan aku jadi anak sholeha Bapak, yg tidak meratapi & membasahi jasadnya dengan airmataku, Dia menginginkan aku menghujani Bapak dengan doa, doa dan doa.
Bapak, maafkan aku tak bisa ada di sisimu di saat2 terakhirmu. Aku berjanji untuk menjadi anakmu yg sholeha. Saat ini pun yg menjadi motivasi untuk aku tetap berusaha menjalani hidup secara normal semata2 adalah usaha menjadi manusia sholeha, anakmu yg sholeha, yg doanya tidak terbatasi oleh apa pun, Insya Allah. Ayahanda Sutrisno Setyowiyono, namamu terukir dengan tinta emas di benak putrimu selamanya.
Tembakan salvo dalam upacara kemiliteran yg menyertai pemakamannya hanya dapat aku dengar lewat telepon. Entah kapan aku bisa mengunjungi pusaranya di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Hanya doa yg tak putus & Insya Allah tidak berbatas yg bisa aku hantar. Selamat jalan Bapak, selamat jalan motivatorku, selamat jalan pahlawanku tercinta…
Ya Allah Yang Maha Pemurah, ampunilah dosa2 bapakku, lipatgandakan catatan amal baik & ibadahnya, muliakan tempat kembalinya, terimalah dengan penuh kasih sebagaimana Engkau menyambut jiwa yang muthmainah. Jadikanlah dia ahli surga yang kekal dan abadi, pertemukanlah aku dengan almarhum di surgaMU kelak…Amin yaa rabb
