2 hari setelah Bapak wafat. Aku masih sangat sangat sedih. Rasanya dada seperti diiris setiap kali keinget almarhum. Keinget gaya bicaranya yg selalu menggunakan bahasa Indonesia yg baik & benar walau ke anak sendiri sekalipun, keinget cerita2 lawasnya yg sangat detail, menunjukkan kekuatan ingatannya yg luar biasa, keinget wejangan2nya ttg nilai2 hidup, keinget betapa kerasnya almarhum mempertahankan harga dirinya, keinget kemandiriannya, keinget betapa teguh almarhum terhadap ikrarnya, keinget juga betapa kukuhnya almarhum memegang kebenaran yg ia yakini. Sebentar, siapakah yg aku kenang ini? Apakah kedengarannya seperti seseorang yg mengenang gurunya atau tutornya atau seorang tokoh yg bukan ayahnya sendiri? Mmmm…bisa jadi berkesan seperti itu.
Bapakku memang unik, terutama kalau aku bandingkan dengan A’Bubun juga Papah (ayah A’Bubun) yg sangat hangat terhadap anak2nya. Bapakku bukan ayah yg sering menimang, memeluk, mencium anak2nya. Kontak fisik yg paling aku ingat dengan Bapak adalah, beliau yg motongin kukuku seminggu sekali, merawat dengan telaten luka2ku gara2 sering jatuh waktu belajar sepeda, sering juga mandiin, terus yg paling nempel di kepala adalah almarhum selalu sangat hati2 kalau ngandukin badan kami & nyisirin rambut. Saking hati2nya suatu hari aku protes karena beliau begitu lembut ngandukin & nyisirin, “Bapak, koq ngandukinnya nggak kerasa sih? Entar nggak kering lho! Tuh, rambutnya juga masih acak2an di dalemnya, abis Bapak nyisirinnya kayak ngelus2. Jelek ah!” Waktu itu Bapak cuma senyum sambil natap aku dalem2. Duuuuhhhh…. Itu dia, satu lagi, Bapakku memang nggak pernah menyatakan secara verbal semua yg beliau rasakan terhadap kami, tapi kami tahu sekali, Bapak amat sangat mencintai kami anak2nya.
Ketimbang bercanda atau bermanja dengan Bapak, rasanya kami lebih sering berdiskusi atau mendengarkan wejangan beliau yg sarat dengan nilai2 kehidupan. Ah Bapak… Aku masih ingat sekali percakapan kami terakhir di telepon 2 minggu sebelum beliau wafat. Aku bercerita tentang pengalaman berhajiku yg baru selesai 2 hari sebelumnya, beliau mendengarkan dengan penuh antusias, suaranya masih terdengar biasa, bahkan terdengar sangat bahagia.
Kenangan2 manis dengan Bapak yg muncul berkelibatan itulah yg sering bikin aku nangis sekarang ini, apalagi kalau sedang sendiri.
Agak cemas juga menghadapi hari ini, apalagi A’Bubun berangkat ke Beijing kemaren malam, nggak lama, 5 hari lagi udah pulang. Tapi, bagaimana pun waktuku sendirian saat anak2 sekolah kemaren selalu ‘disibukkan’ oleh telepon A’Bubun yg bolak-balik menanyakan kondisiku per jam, hingga aku nggak sempat larut dalam kesedihan.
Allah Maha Pengasih, jam 8.45 aku mulai sendiri di rumah, jam 9.30 datang Haifa & Henny, nggak lama kemudian datang Ulfa, Indah Gamma, Indah Mustafa, Rosi, muncul kemudian Tuti, terakhir datang juga Liza. Semua datang untuk berta’ziyah atau mengunjungi & menghibur aku. Liza menemani aku sampai jam 2 siang, Alita udah pulang sekolah, Dzaky & Athaya menjelang pulang juga. Akhirnya, hari ini aku nggak sempat sendirian & larut dalam kesedihan. Alhamdulillah, kecemasanku dihapus olehNYA melalui kedatangan teman2 baik yg DIA kirimkan untukku.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS.Ar Rahmaan ayat 13)