Lembur Wirahman

January 26, 2007

Wish Come True

Filed under: Ngedongeng

Hari ke-7 Bapak nggak ada. Makin kerasa kalo Allah sayang sekali sama aku. Terlalu banyak kalo disebutin satu2 nikmat yg DIA kasih untuk ngehibur aku. Dan aku bener2 kehibur.

Kemaren tangisku ganti jadi tangis haru. Sering banget terjadi, banyak orang ngarepin sesuatu, berusaha dan berdoa banyak2 memohon sesuatu terjadi atau terwujud, tapi sesuatu itu nggak pernah terjadi /terwujud. Allah Maha Kuasa & Maha Mengetahui, Dia pasti punya skenario lain yg lebih bagus untuk kita.
Tapi, kabar itu, bikin aku merinding, haru & bahagia, karena berarti wish aku & buanyak temen2 lainnya akan terwujud.

Buat The Groom & The Bride, semoga Allah memberkahi kalian, langgeng sampai hanya ajal yg memisahkan kalian. Ah, kalian memang orang2 luar biasa, demi kebahagiaan malaikat2 kecil itu, transformasi ini kalian jalani, dan aku yakin itu sama sekali nggak mudah & sederhana buat kalian berdua. Semoga Allah Swt mengganjar niat suci kalian dengan rizki & karunia yg melimpah. Semoga terbentuk keluarga sakinah, mawwadah & warahmah. Amin.

January 24, 2007

Especially For You

Filed under: Curhat

4 hari setelah Bapak tiada, aku masih berusaha keras untuk mengalihkan energi sedihku jadi ibadah. Acara kangen2an dengan Allah Swt sekarang juga berarti kangen2an dengan Bapak, bedanya kalau ke Allah Swt aku memohon, kalau ke Bapak aku mengirim. Sambil berdiang nasi masak, sambil membaca Surat Yaasin berarti aku bertilawah berarti juga aku berlatih tahsin. Tahsin…jadi kangen sama guru2ku yg cantik ini, dan yang ini.

Sebetulnya hari ini udah hampir berhasil mengalihkan semua energi sedih itu menjadi doa. Sebelum makan malem, sempet nemenin anak2 nonton tv, yg tumben2an nonton MTV, pas yang ditayangin lagu “Hurt”nya Christina Aguilera, baru mulai. Tumben juga aku nyimak liriknya kata per kata & ngamatin video clipnya. Serendut…lagu ini pas banget. Bapak, lagu ini dari aku yg pernah sangat mengecewakanmu. Aku cinta Bapak, aku sayang Bapak, aku harap Bapak udah maapin aku…

January 22, 2007

H+2

Filed under: Ngedongeng

2 hari setelah Bapak wafat. Aku masih sangat sangat sedih. Rasanya dada seperti diiris setiap kali keinget almarhum. Keinget gaya bicaranya yg selalu menggunakan bahasa Indonesia yg baik & benar walau ke anak sendiri sekalipun, keinget cerita2 lawasnya yg sangat detail, menunjukkan kekuatan ingatannya yg luar biasa, keinget wejangan2nya ttg nilai2 hidup, keinget betapa kerasnya almarhum mempertahankan harga dirinya, keinget kemandiriannya, keinget betapa teguh almarhum terhadap ikrarnya, keinget juga betapa kukuhnya almarhum memegang kebenaran yg ia yakini. Sebentar, siapakah yg aku kenang ini? Apakah kedengarannya seperti seseorang yg mengenang gurunya atau tutornya atau seorang tokoh yg bukan ayahnya sendiri? Mmmm…bisa jadi berkesan seperti itu.

Bapakku memang unik, terutama kalau aku bandingkan dengan A’Bubun juga Papah (ayah A’Bubun) yg sangat hangat terhadap anak2nya. Bapakku bukan ayah yg sering menimang, memeluk, mencium anak2nya. Kontak fisik yg paling aku ingat dengan Bapak adalah, beliau yg motongin kukuku seminggu sekali, merawat dengan telaten luka2ku gara2 sering jatuh waktu belajar sepeda, sering juga mandiin, terus yg paling nempel di kepala adalah almarhum selalu sangat hati2 kalau ngandukin badan kami & nyisirin rambut. Saking hati2nya suatu hari aku protes karena beliau begitu lembut ngandukin & nyisirin, “Bapak, koq ngandukinnya nggak kerasa sih? Entar nggak kering lho! Tuh, rambutnya juga masih acak2an di dalemnya, abis Bapak nyisirinnya kayak ngelus2. Jelek ah!” Waktu itu Bapak cuma senyum sambil natap aku dalem2. Duuuuhhhh…. Itu dia, satu lagi, Bapakku memang nggak pernah menyatakan secara verbal semua yg beliau rasakan terhadap kami, tapi kami tahu sekali, Bapak amat sangat mencintai kami anak2nya.

Ketimbang bercanda atau bermanja dengan Bapak, rasanya kami lebih sering berdiskusi atau mendengarkan wejangan beliau yg sarat dengan nilai2 kehidupan. Ah Bapak… Aku masih ingat sekali percakapan kami terakhir di telepon 2 minggu sebelum beliau wafat. Aku bercerita tentang pengalaman berhajiku yg baru selesai 2 hari sebelumnya, beliau mendengarkan dengan penuh antusias, suaranya masih terdengar biasa, bahkan terdengar sangat bahagia.
Kenangan2 manis dengan Bapak yg muncul berkelibatan itulah yg sering bikin aku nangis sekarang ini, apalagi kalau sedang sendiri.

Agak cemas juga menghadapi hari ini, apalagi A’Bubun berangkat ke Beijing kemaren malam, nggak lama, 5 hari lagi udah pulang. Tapi, bagaimana pun waktuku sendirian saat anak2 sekolah kemaren selalu ‘disibukkan’ oleh telepon A’Bubun yg bolak-balik menanyakan kondisiku per jam, hingga aku nggak sempat larut dalam kesedihan.

Allah Maha Pengasih, jam 8.45 aku mulai sendiri di rumah, jam 9.30 datang Haifa & Henny, nggak lama kemudian datang Ulfa, Indah Gamma, Indah Mustafa, Rosi, muncul kemudian Tuti, terakhir datang juga Liza. Semua datang untuk berta’ziyah atau mengunjungi & menghibur aku. Liza menemani aku sampai jam 2 siang, Alita udah pulang sekolah, Dzaky & Athaya menjelang pulang juga. Akhirnya, hari ini aku nggak sempat sendirian & larut dalam kesedihan. Alhamdulillah, kecemasanku dihapus olehNYA melalui kedatangan teman2 baik yg DIA kirimkan untukku.


“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS.Ar Rahmaan ayat 13)

January 20, 2007

Selamat Jalan Pahlawanku

Filed under: Curhat

Perih ini tak bisa aku gambarkan dengan kata2. Betapa perihku mengingat aku tak sempat merawat beliau di hari2 terakhirnya, betapa aku tak sempat memeluk & menciumnya, bahkan hanya menatap wajah pucatnya sebelum dimasukkan ke liang lahat, betapa jauh & tak berdayanya aku untuk sekedar mengantar jasadnya di peristirahatan terakhirnya…
Allah Maha Pengasih, Dia sangat mencintai ayahku, hingga Dia memberi skenario hidup seperti ini buatku. Allah Swt tak mengijinkan jasad Bapak dihujani oleh airmataku, diratapi oleh tangisanku, yg hanya akan memberatkan langkahnya, dan itu sangat mungkin terjadi apabila aku masih di Singapore. Allah Swt menginginkan aku jadi anak sholeha Bapak, yg tidak meratapi & membasahi jasadnya dengan airmataku, Dia menginginkan aku menghujani Bapak dengan doa, doa dan doa.

Bapak, maafkan aku tak bisa ada di sisimu di saat2 terakhirmu. Aku berjanji untuk menjadi anakmu yg sholeha. Saat ini pun yg menjadi motivasi untuk aku tetap berusaha menjalani hidup secara normal semata2 adalah usaha menjadi manusia sholeha, anakmu yg sholeha, yg doanya tidak terbatasi oleh apa pun, Insya Allah. Ayahanda Sutrisno Setyowiyono, namamu terukir dengan tinta emas di benak putrimu selamanya.

Tembakan salvo dalam upacara kemiliteran yg menyertai pemakamannya hanya dapat aku dengar lewat telepon. Entah kapan aku bisa mengunjungi pusaranya di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Hanya doa yg tak putus & Insya Allah tidak berbatas yg bisa aku hantar. Selamat jalan Bapak, selamat jalan motivatorku, selamat jalan pahlawanku tercinta…

Ya Allah Yang Maha Pemurah, ampunilah dosa2 bapakku, lipatgandakan catatan amal baik & ibadahnya, muliakan tempat kembalinya, terimalah dengan penuh kasih sebagaimana Engkau menyambut jiwa yang muthmainah. Jadikanlah dia ahli surga yang kekal dan abadi, pertemukanlah aku dengan almarhum di surgaMU kelak…Amin yaa rabb

January 7, 2007

Undangan Amat Sangat Spesial Sekali

Filed under: Curhat, Ngedongeng

Awal Tahun 2006

Percakapan di sebuah meja di sebuah foodcourt di dalam sebuah neighbourhood mall.
Istri : A’ tahun ini musim haji bertepatan dengan libur panjang anak2 lho
Suami : O ya?
Istri : Kita berangkat ibadah haji yuk, anak2 kita titipin di Bandung
Suami : Kita lihat aja nanti ya, sayang….

Si istri cuma bisa berdoa, semoga ‘nanti yg akan dilihat suaminya’ itu berarti mereka bisa beribadah haji bersama di akhir tahun nanti….


Pertengahan April 2006

Percakapan siang hari di kamar tidur anak2 perempuan di sebuah flat di Singapura.
Suami : Ling, mau nggak pindah ke Riyadh?
Istri : Kenapa nggak?
Suami : Betul?
Istri : Iya

Mereka pun berpelukan. Kebahagiaan memenuhi hati mereka. Untuk si suami, hal yg sangat berlawanan pernah dihadapi 7 tahun sebelumnya, ketika si istri menolak dengan sangat keras tawaran menarik yg diberikan kepadanya untuk posisi bagus di Riyadh juga, hanya karena sang istri sangat mengharamkan negeri itu utk dijadikan tempat tinggal mereka walaupun sementara. Tapi itu dulu. Sekarang si istri begitu antusias, karena pindah ke Riyadh artinya mendekati Baitullah, bisa mengunjungi kiblat, yg setiap harinya minimal 5x dia menghadapkan diri, wajah, hati, dan pikirannya kepadanya. Allah Maha membolak-balikkan hati….

Akhir November 2006

Percakapan malam hari di meja makan di sebuah villa cantik di Riyadh.
Suami : Ling, maaf ya, kayaknya kita belum bisa berangkat haji tahun ini
Istri : Kenapa?
Suami : Aa harus standby di Riyadh. Moga2 tahun depan kita bisa berangkat sekeluarga. Entar bulan Januari aja kita umroh dulu.

Sang istri hanya bisa pasrah, dia sadar sekali bahwa suaminya masih orang bayaran. Tapi dalam hatinya hasrat untuk melaksanakan ibadah haji segera tidak pernah padam…


17 Desember 2006

Percakapan di telepon sang istri dengan Ulfa, sahabatnya sejak di Singapura, berikut penggalan pentingnya.
Istri : Gimana persiapan berhajinya?
Ulfa : Kenapa? Berminat?
Istri : Emang masih bisa?
Ulfa : Masih, kebetulan ada beberapa orang yg mengundurkan diri
Istri : Nyaris mustahil. Suamiku kan nggak bisa berangkat, pasti nggak gampang dapet ijin dari dia yg orangnya kuatiran kayak gitu
Ulfa : Barangkali mau, sekarang hari terakhir pendaftaran setau aku
Istri : Waduh, jadi tergoda. Padahal sebetulnya tujuan nelepon untuk nawarin barangkali mau nitipin anak2 di rumahku selama berhaji
Ulfa : Terima kasih sekali. Aku cuma ngasih info lho.
Istri : Makasih sekali infonya. Aku coba ngerayu suamiku ah, kali aja diijinin.

Segalanya sangat dimudahkan bagi si istri. Sang suami mengijinkan, proses pendaftaran sangat cepat & lancar, bahkan sang pemimpin rombongan pun terheran2 menyaksikan begitu cepatnya proses pendaftaran terjadi, mengingat tidak sedikitnya persyaratan yg diperlukan & semuanya perlu waktu untuk diselesaikan.

Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu. Sungguh Engkau Maha Kuasa & Maha Pemurah, hanya dengan kuasaMU segalanya terjadi. Insya Allah aku berangkat berhaji tanggal 27 Desember 2006 dengan rombongan dari Kedutaan Besar Malaysia di Riyadh.
Aku datang ya Allah….aku datang memenuhi undanganMU…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer