Lembur Wirahman

October 31, 2006

Medical Check Up

Filed under: Ngedongeng

Nggak seperti waktu masuk Singapura dulu sebagai tanggungan suami atas sponsor perusahaan tempat A’Bubun kerja, aku & anak-anak sama sekali nggak terlibat apa-apa tahu-tahu udah dapet kartu hijau Dependant Pass, untuk masuk Saudi Arabia aku & anak-anak harus menyerahkan medical report. Jadi aku & anak-anak harus menjalani medical check up dulu, yg terdiri dari bermacam-macam pemeriksaan. Yang paling bikin stress adalah pemeriksaan darah, air kencing & kotoran.

Untuk pemeriksaan darah, demi jaim di depan anak-anak, aku berusaha nggak keliatan ketakutan. Gawat dong, entar kalo liat ibunya tegang, anak-anak pasti lebih tegang. Giliran pertama aku. Wadauw…untuk nyedot darah sebanyak 10 ml dari nadi yg ada di balik siku tangan kiriku koq lamaaa banget, dan selama itu aku harus bersandiwara seolah-olah aku nggak kesakitan apalagi ketakutan. Padahal…sumpah, ingin nangis…whoaaaa….!! Giliran kedua, Dzaky, si super ekspresif ini, waktu darahnya sedang disedot, aku harus mengalihkan perhatian Athaya & Alita, dibawa jauh-jauh dari ruangan tempat pengambilan darah, supaya adik-adiknya nggak nolak saat giliran tiba, walaupun tetep aja kedengeran ada diplomasi alot antara Dzaky, A’Bubun & petugas pengambil sample darah, sebelum akhirnya kedengeran "uuuu….aaaa…ooouuuuwww". Giliran Athaya, walau aku udah pergi jauh-jauh dengan Alita, ternyata tangisnya masih kedengeran. Giliran Alita, ini yg paling menakjubkan emoticon. Sejak sebelum berangkat ke laboratorium aku udah membekali dia dengan cerita tentang kehebatan dia yang nggak pernah nangis sejak bayi kalau disuntik imunisasi, terus aku juga bilang bahwa diambil darah itu sakit, tapi Alita jagoan, jadi pasti nggak nangis. Ih, beneran lho, Alita nggak nangis sama sekali, keliatan sih dia nahan sakit. Yang bikin nggak tega, karena masih terlalu kecil, untuk ngambil 10 ml sample darah, Alita harus ditusuk 2x di tangan kiri & tangan kanan. Sesudah diambil darahnya, Alita jadi topang pipi terus pake kedua tangannya, sebetulnya tangan dilipat itu cukup 1-2 menit, tapi rupanya Alita masih terus kesakitan, jadi terus topang pipi dan tanda-tanda stress jelas terlihat, keringat dingin muncul di jidatnya, padahal di dalam ruangan ber-ac yg cukup dingin tuh. Kasian banget Alita, terus-terusan bilang "Alita nggak mau kesini lagi".

Pengambilan sample urine berjalan sangat lancar, apalagi aku & anak2 kedinginan di dalam laboratorium, jadi hasrat pipis tersalurkan. Giliran Alita, kasian banget, padahal udah kebelet pipis, tapi begitu aku sodorin cangkir plastik penampung air pipisnya, dia bilang nggak bisa pipis. Gitu terus. Walhasil, pemeriksaan yg seharusnya selesai jam 1.30, baru kelar jam 3.30, gara-gara nungguin & ngebujukin Alita untuk mau pipisnya ditampung di cangkir, soalnya nggak seperti kotoran alias tinja yg bisa diserahkan besok harinya, sample pipis harus diserahkan hari itu juga. Kebayang nggak, untuk medical check up kan kita harus puasa dulu, jadi kita baru sarapan jam 4 sore. Luaper banget. 

Kalo berdasarkan komentar petugas di bagian pendaftaran, report yg diminta dari Saudi Embassy itu komplit banget. Yahhh…semoga di Saudi Arabia nanti kami sekeluarga semakin sehat. Amin.

Lebaran Euy…!

Filed under: Ngedongeng

Yang aku inget nih, selama hidupku, udah 34 kali lebaran aku rayakan di Bandung. Secara aku yg lahir, gede, nikah, sampe punya anak dua di Bandung, ya gitu deh, walaupun dlm periode 34 tahun itu aku nggak selalu tinggal disana, teteup kalo lebaran aku maunya ngerayain di Bandung.Apa sih istimewanya lebaran di Bandung? Mmmm…apa ya? Yang pasti ortuku, mertuaku, semua tinggal di Bandung, saudara sekandung ada 3 orang tinggal di Bandung, saudara2 A’Bubun hampir semua tinggal di Bandung. Masuk di akal kan kalo aku merasa harus merayakan lebaran di Bandung, momen yg salah satu hikmahnya adalah mempererat silaturahmi. Jadi, buat aku, sampai thn 2003 kemaren, lebaran dibela2in harus di Bandung atuh. Ndilalahnya hari lebaran jatuh di awal  masa libur panjang anak-anak, jadi mudik lebaran biasanya nyambung sampai tahun baru, hampir 1,5 bulan. Sejak tahun 2004 kami sekeluarga terpaksa harus berlebaran di negeri pulau kecil ini, karena perbedaan hitungan waktu tahun hijriyah dan masehi, jadi hari lebaran jatuh sebelum masa libur panjang anak-anak, yang lebih parah hari lebaran justru hari tegang menghadapi masa ujian anak-anak. Jadi…ya terpaksa berlebaran disini dong. Cerita horor yg disebar oleh Mela & Ellen tentang sedihnya lebaran jauh dari keluarga sempet bikin ciut hati. Ternyata…sedihnya ‘cuma’ nggak bisa ngumpul dengan keluarga besar di tanah air, tapi selebihnya, lebaran di Singapura menyenangkan. Apalagi tahun pertama berlebaran di rantau ini Wanti & Iif ngadain open house. Di tahun kedua, aku sempet ngadain open house. Nah, di tahun ketiga aku berlebaran di sini, kami, orang-orang Indonesia, para non mudiker, ngadain lebaran bareng di Tampines, Ita sengaja menyewa aula, dan kami berlebaran dengan hidangan ala potluck, alias hampir semua yang hadir membawa makanan hasil karya sendiri, walhasil makanan bermacam-macam & melimpah juga tetep bisa dijarah untuk dibawa pulang. Ini nih foto-foto hasil jepretan Sang Sniper Ulung.

Kesimpulan, walau di tanah rantau, lebaran jauh dari keluarga besar, bisa tetep hepi koq, bisa tetep makan hidangan lebaran ala tanah air.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer