Lembur Wirahman

October 13, 2006

Tetangga Disini Tetangga Disana

Filed under: Ngedongeng

Tetangga itu buat aku adalah orang yang bertempat tinggal sampai radius 3 km dari rumahku. Orang-orang yang harus dimuliakan, karena merekalah saudara terdekatku, merekalah orang-orang yang paling duluan tahu apa yang terjadi baik di dalam maupun di luar rumahku. Tapi itu definisi masa lalu, dimana teknologi belum seperti sekarang. Jadi, apakah definisi tetangga buat aku sekarang udah berubah? Tepatnya udah nggak sama lagi, walau nggak sama sekali berubah. Tetap tetangga adalah orang-orang yg dekat secara tempat tinggal, tapi bukan berarti mereka saudara terdekat lagi. Op…op…op…bukan berarti juga aku nggak memuliakan mereka lho. Tapi orang-orang yang paling duluan tahu apa yang terjadi di dalam maupun di luar rumahku, juga saudara terdekatku adalah orang-orang yang selalu aku kontak dengan berkirim sms & bertelepon…dan mereka tinggal jauuuuh sekali dari rumahku, beribu-ribu kilometer.

Ada yang salah dengan konsepku bertetangga? Sedikit pembelaan diri, sekarang ini aku tinggal di sebuah negeri pulau yang kecil, yang serba teratur, yang sadar atau tidak aturan-aturan itu membuat hampir semua penduduknya jadi bersikap “kamu jangan ngeganggu saya karena saya pun nggak akan ngeganggu kamu” untuk hal-hal yang bersifat sangat wajar dilakukan antar sesama makhluk sosial.
Jadi aku harus realistis dong, nggak mungkin aku curhat sama tetangga, cerita hal-hal nggak penting yang terjadi di rumahku, bahkan untuk obrolan singkat tentang kondisi yang sedang sama-sama dihadapi saat berpapasan atau bertemu di dalam lift.
Tapi jangan dipikir aku juga nggak kontak sama sekali dengan tetangga-tetangga terdekatku. Kami saling mengirim makanan, saling membantu menyirami tanaman di koridor, saling senyum dan menyapa setiap kali berjumpa, diwarnai dengan obrolan sangat singkat.

Sapaan tetangga selalu jadi hal yang aku ingat setiap kali aku pindah tempat tinggal. Beda tempat tinggal, beda cara menyapa.
Sejak lahir sampai aku berumur 10 tahun, aku tinggal di kompleks tentara. Aku inget sekali, sampai dengan umur 7 tahun, tetanggakulah yg menyapa aku dengan sapaan seperti ini, “Eh Wiwie, udah mandi, udah cantik, mau kemana?” atau yang lebih sering malah “Wiwie udah sore gini koq belum mandi?”. Diatas umur 7 tahun akulah yang rajin menyapa tetangga-tetanggaku “Om mau pergi ke kantor ya?” atau “Tante lagi nyiramin bunga ya?” atau “Mbak mau berangkat sekolah ya?” atau “Mas mau olahraga ya?”
Umur 10-23 tahun aku tinggal di rumah yang menghadap ke jalan besar, sapaan tetanggaku lain lagi, mereka biasanya senyum dan kadang melambaikan tangannya ke aku saat aku berdiri di balkon yang menghadap ke jalan raya, atau kami saling melempar senyum & menganggukkan kepala saat berpapasan dan mereka akan menyapa dengan sapaan yang nyaris hampir selalu sama “Mau kemana Mbak Wiwie?”
Setelah menikah & punya anak Dzaky aku tinggal di kompleks perumahan di Bekasi, sapaan tetangga bunyinya lain lagi “Masak apa hari ini Mama Dzaky?” atau “Mau kemana Mama Dzaky?”
Punya anak Dzaky & Athaya aku tinggal di kompleks perumahan di Bandung, dimana mayoritas penghuninya warga keturunan tionghoa. Walau kompleks itu konsep awalnya adalah rumah taman, lama kelamaan hampir semua berpagar tinggi. Disini jangankan disapa, untuk menyapa tetangga aja susah banget, semua orang seperti menghindari kontak mata, atau pura-pura sibuk dengan setirnya, kalo lagi di dalem mobil, atau pura-pura sibuk dengan sepatu olahraganya, kalo pas kebetulan papasan saat berolahraga. Heran deh itu orang-orang. Tapi juga bukan berarti aku jadi nggak pernah saling menyapa. Aku tetap saling menyapa, bukan dengan tetangga, tapi dengan satpam kompleksku. Biasanya mereka akan menyapa saat membukakan gerbang kompleks, “Pagi Bu”, dan aku akan membuka kaca jendela mobilku sambil menjawab “Pagi juga Pak …”
Di sini nih, di negeri pulau ini, sapaan beragam, tergantung ras si penyapa. Kalo orang Melayu akan menyapa “Nak pegi mana?”, orang India jarang sekali menyapa, tapi kalo pun menyapa, mereka pake sapaan standar bahasa inggris “Good morning” atau gud2an lainnya, orang Cinanya dong…seru…kalo yang udah umur 40 tahun ke atas, kapan aja papasan, apa pun kondisinya, akan menyapa dengan sapaan “Sudah makan?” Weleh…

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://thewirahman.blogsome.com/2006/10/13/tetangga-oh-tetangga/trackback/

  1. Sarapan apa tadi? :D

    Wiwie ngejawab : koq sarapan sih? sahur atuh!

    Comment by Administrator — October 14, 2006 @ 4:22 am

  2. Yang td itu dr aku, jeng Wie. :D

    Wiwie ngejawab : Iya, tau koq. Makasih ya…

    Comment by Hany — October 14, 2006 @ 4:24 am

  3. Rajin2 apdet yah….kalo saya apdetnya ‘mood’2an bgt :D

    Wiwie ngejawab : He he…si besan, udah apal banget perilaku besannya ;)

    Comment by bundanya wafa — October 14, 2006 @ 10:20 pm

  4. ihiiyy.. nyoba comment di postingan baru udah bisa masuk mba wie… :D
    budaya disini mba setiap ketemu pasti deh nanya-in “keif halik?” = “apa kabar?” kadang nanya nya sampe berkali-kali..

    Wiwie ngomong : Sumpah deh Liz, yg ngutak-ngatik sampe bisa masuk komen bukan aku lho. Nah, entar ajarin ngeblog juga ya.
    Sip, udah dapet sapaan baru “keif halik?”, harus berulang2 ya Liz? ;) )

    Comment by liza — October 15, 2006 @ 1:37 pm

  5. kalo uncle2 sebelah enji mah selalu nanya “going shopping ha?”, kalo yg di depan enji mah boro2 nyapa..disenyumin aja lgs buang muka..iih awas lo, gak gwa kasi brownies kukus nanti..hihihihi

    Wiwie ngomong : Ih, buang2 muka…kalo udah kehilangan, sibuk operasi face off tuh :D

    Comment by enji — October 19, 2006 @ 6:26 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer