Hidup Terpisah itu Perih, Jenderal…
Terpisah, berpisah, perpisahan kayaknya nggak pernah ada yg menginginkan, apalagi kalo dengan orang yg kita cintai. Janganlah bicara soal perpisahan dgn penyakit, utang, kesusahan, dll lho ya, itu sih semua juga ogah deh dipertemukan.
Udah hampir setengah tahun ini aku & anak-anak hidup terpisah dengan suami dan juga ayahnya anak-anak. Nggak full 5 bulan sih, 1,5 bulan sekali A’Bubun nengokin aku & anak-anak. Sampai saat ini semua berjalan sesuai rencana, aku ngejalanin hidup di negeri pulau ini dengan anak-anak sampai mereka menyelesaikan level/grade sekolah yg sekarang bulan depan, A’Bubun duluan pindah, nyiapin tempat tinggal & sekolah anak-anak di negeri baru itu, dan bulan depan atau 6 bulan setelah kepindahannya Insya Allah kami semua akan berkumpul di negeri padang pasir.
Rencana itu aku yg mencetuskan dan rasanya udah nyiapin mental untuk menghadapi segala resikonya. A’Bubun pergi dengan perasaan campur aduk, bahagia & semangat dengan pekerjaan baru di perusahaan baru dan di negara baru sekaligus sedih, kuatir & waswas meninggalkan aku & anak2 di negeri orang. Saat A’Bubun berangkat, aku berusaha keras untuk meyakinkan dia bahwa aku & anak-anak akan baik-baik saja karena kami menghadapi segalanya dengan penuh optimisme. Aku menolak tawaran A’Bubun untuk mempekerjakan seorang PLRT, karena aku yakin bisa menghandle semuanya, toh aku udah punya part time maid yg ngebantu nyetrika baju & bersih-bersih rumah, aku juga nggak perlu masak karena aku punya katering langganan yg ngirim masakan setiap hari kecuali sabtu & minggu. Dalam pikiranku, aku bisa menghandle segalanya, karena aku juga punya kawan-kawan dekat yg baik dan sangat bisa diandalkan di saat-saat yg tidak menguntungkan.
Semangat & optimismeku mulai rontok, tak berapa lama setelah kepergian A’Bubun ke negeri yg baru, teman-teman dekatku yang sangat baik & sangat bisa diandalkan, nyaris berbarengan pergi meninggalkan negeri pulau ini. Yahh…hidup terpisahku baru dimulai. Aku harus selalu berkompromi dengan diri sendiri manakala keletihan menghadapi anak-anak 24 jam sehari, 7 hari seminggu seringkali menggiring aku untuk meledak kapan saja. Aku juga harus berusaha memapah langkah sendiri ke tempat yang aman saat serangan pingsanku tiba-tiba datang, walau beberapa kali aku terbangun sedang terbaring di lantai dapur, menyandar lemah di wastafel kamar mandi, atau tertelungkup di atas karpet. Ya, aku pingsan tanpa seorang pun tahu…
Aku terpisah dari semuanya. Aku terpisah dari suamiku, dari keluarga besarku di tanah air, dari teman-teman baikku. Hari-hari aku jalanin dengan penuh (usaha untuk) semangat & ceria. Aku ingin anak-anakku melihat tidak ada yg berubah karena perpisahan yg walaupun sementara ini, sebetulnya sudah mulai menggerogoti semangat & optimismeku. Aku berusaha selalu memberi kabar terbaik kepada A’Bubun dan keluarga besar di tanah air, semata-mata agar mereka tidak kuatir. Yah…dalam perpisahan ini, aku selalu bersandiwara. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa aku optimis,bisa menghandle segalanya dan semua berjalan sesuai dengan rencana yang aku cetuskan…

Mba wiwie ,aku sedih baca nya.. Kalo udah di negara yang satu nya inget kita-kita yang di spore yah. Aku yakin mba wiwie bisa kuat menunggu masnya kan tinggal sebentar lagi nih. Sapa tau aku ada rejeki bisa naik haji, kita bisa ketemuan yah..
Insyallah.
Comment by tyty — October 13, 2006 @ 5:38 pm
tetap semangat,jendral. bukankah tinggal 5 hari lagi
Comment by ellen — October 13, 2006 @ 6:44 pm
wah..teh wiwi hebat yah, spt wonder woman..heuheuheu
Comment by enji — October 19, 2006 @ 6:18 am
wiek, siip..baca ini eik jadi semangat bahwa miswa ga pulang 9 to 5 gapapa alias ga blh manja ..hehehe. salaams.
ps. rajin2 update ya…
Comment by rini @PR — October 22, 2006 @ 1:20 pm