Lembur Wirahman

October 31, 2006

Medical Check Up

Filed under: Ngedongeng

Nggak seperti waktu masuk Singapura dulu sebagai tanggungan suami atas sponsor perusahaan tempat A’Bubun kerja, aku & anak-anak sama sekali nggak terlibat apa-apa tahu-tahu udah dapet kartu hijau Dependant Pass, untuk masuk Saudi Arabia aku & anak-anak harus menyerahkan medical report. Jadi aku & anak-anak harus menjalani medical check up dulu, yg terdiri dari bermacam-macam pemeriksaan. Yang paling bikin stress adalah pemeriksaan darah, air kencing & kotoran.

Untuk pemeriksaan darah, demi jaim di depan anak-anak, aku berusaha nggak keliatan ketakutan. Gawat dong, entar kalo liat ibunya tegang, anak-anak pasti lebih tegang. Giliran pertama aku. Wadauw…untuk nyedot darah sebanyak 10 ml dari nadi yg ada di balik siku tangan kiriku koq lamaaa banget, dan selama itu aku harus bersandiwara seolah-olah aku nggak kesakitan apalagi ketakutan. Padahal…sumpah, ingin nangis…whoaaaa….!! Giliran kedua, Dzaky, si super ekspresif ini, waktu darahnya sedang disedot, aku harus mengalihkan perhatian Athaya & Alita, dibawa jauh-jauh dari ruangan tempat pengambilan darah, supaya adik-adiknya nggak nolak saat giliran tiba, walaupun tetep aja kedengeran ada diplomasi alot antara Dzaky, A’Bubun & petugas pengambil sample darah, sebelum akhirnya kedengeran "uuuu….aaaa…ooouuuuwww". Giliran Athaya, walau aku udah pergi jauh-jauh dengan Alita, ternyata tangisnya masih kedengeran. Giliran Alita, ini yg paling menakjubkan emoticon. Sejak sebelum berangkat ke laboratorium aku udah membekali dia dengan cerita tentang kehebatan dia yang nggak pernah nangis sejak bayi kalau disuntik imunisasi, terus aku juga bilang bahwa diambil darah itu sakit, tapi Alita jagoan, jadi pasti nggak nangis. Ih, beneran lho, Alita nggak nangis sama sekali, keliatan sih dia nahan sakit. Yang bikin nggak tega, karena masih terlalu kecil, untuk ngambil 10 ml sample darah, Alita harus ditusuk 2x di tangan kiri & tangan kanan. Sesudah diambil darahnya, Alita jadi topang pipi terus pake kedua tangannya, sebetulnya tangan dilipat itu cukup 1-2 menit, tapi rupanya Alita masih terus kesakitan, jadi terus topang pipi dan tanda-tanda stress jelas terlihat, keringat dingin muncul di jidatnya, padahal di dalam ruangan ber-ac yg cukup dingin tuh. Kasian banget Alita, terus-terusan bilang "Alita nggak mau kesini lagi".

Pengambilan sample urine berjalan sangat lancar, apalagi aku & anak2 kedinginan di dalam laboratorium, jadi hasrat pipis tersalurkan. Giliran Alita, kasian banget, padahal udah kebelet pipis, tapi begitu aku sodorin cangkir plastik penampung air pipisnya, dia bilang nggak bisa pipis. Gitu terus. Walhasil, pemeriksaan yg seharusnya selesai jam 1.30, baru kelar jam 3.30, gara-gara nungguin & ngebujukin Alita untuk mau pipisnya ditampung di cangkir, soalnya nggak seperti kotoran alias tinja yg bisa diserahkan besok harinya, sample pipis harus diserahkan hari itu juga. Kebayang nggak, untuk medical check up kan kita harus puasa dulu, jadi kita baru sarapan jam 4 sore. Luaper banget. 

Kalo berdasarkan komentar petugas di bagian pendaftaran, report yg diminta dari Saudi Embassy itu komplit banget. Yahhh…semoga di Saudi Arabia nanti kami sekeluarga semakin sehat. Amin.

Lebaran Euy…!

Filed under: Ngedongeng

Yang aku inget nih, selama hidupku, udah 34 kali lebaran aku rayakan di Bandung. Secara aku yg lahir, gede, nikah, sampe punya anak dua di Bandung, ya gitu deh, walaupun dlm periode 34 tahun itu aku nggak selalu tinggal disana, teteup kalo lebaran aku maunya ngerayain di Bandung.Apa sih istimewanya lebaran di Bandung? Mmmm…apa ya? Yang pasti ortuku, mertuaku, semua tinggal di Bandung, saudara sekandung ada 3 orang tinggal di Bandung, saudara2 A’Bubun hampir semua tinggal di Bandung. Masuk di akal kan kalo aku merasa harus merayakan lebaran di Bandung, momen yg salah satu hikmahnya adalah mempererat silaturahmi. Jadi, buat aku, sampai thn 2003 kemaren, lebaran dibela2in harus di Bandung atuh. Ndilalahnya hari lebaran jatuh di awal  masa libur panjang anak-anak, jadi mudik lebaran biasanya nyambung sampai tahun baru, hampir 1,5 bulan. Sejak tahun 2004 kami sekeluarga terpaksa harus berlebaran di negeri pulau kecil ini, karena perbedaan hitungan waktu tahun hijriyah dan masehi, jadi hari lebaran jatuh sebelum masa libur panjang anak-anak, yang lebih parah hari lebaran justru hari tegang menghadapi masa ujian anak-anak. Jadi…ya terpaksa berlebaran disini dong. Cerita horor yg disebar oleh Mela & Ellen tentang sedihnya lebaran jauh dari keluarga sempet bikin ciut hati. Ternyata…sedihnya ‘cuma’ nggak bisa ngumpul dengan keluarga besar di tanah air, tapi selebihnya, lebaran di Singapura menyenangkan. Apalagi tahun pertama berlebaran di rantau ini Wanti & Iif ngadain open house. Di tahun kedua, aku sempet ngadain open house. Nah, di tahun ketiga aku berlebaran di sini, kami, orang-orang Indonesia, para non mudiker, ngadain lebaran bareng di Tampines, Ita sengaja menyewa aula, dan kami berlebaran dengan hidangan ala potluck, alias hampir semua yang hadir membawa makanan hasil karya sendiri, walhasil makanan bermacam-macam & melimpah juga tetep bisa dijarah untuk dibawa pulang. Ini nih foto-foto hasil jepretan Sang Sniper Ulung.

Kesimpulan, walau di tanah rantau, lebaran jauh dari keluarga besar, bisa tetep hepi koq, bisa tetep makan hidangan lebaran ala tanah air.

October 16, 2006

Kiriman Tetangga

Filed under: Ngedongeng

Ada yang pernah nolak nggak kalo dapet kiriman dari tetangga? Mmmm…aku yakin hampir 100% nggak akan nolak kalo ada tetangga atau orang suruhannya yang dateng ke rumah untuk mengirimkan makanan atau oleh-oleh berupa barang souvenir kecil dari tempat yang baru dikunjungi oleh tetangga kita. Walaupun pada akhirnya belum tentu kiriman itu kita makan atau pakai karena tidak memenuhi selera kita. Betul nggak sih?
Tapi di negeri pulau kecil ini, seringkali kalau kiriman kita berupa makanan, tetangga akan menolak dengan lugas *senyum kecut*. Tapi kalo tetangga ini adalah orang yang berasal dari ras mayoritas di negeri ini tuh.

Ini tetangga waktu di Chai Chee dulu lho…Tetanggaku ini pasangan yang bekerja, rumahnya sehari-hari diisi anak laki-lakinya yang seumur Athaya, bayi perempuan kecil, adik si anak laki-laki itu, PLRTnya dan ibu dari kepala keluarga di rumah itu. Nah si ibu, alias nenek dari anak-anak itu galaknya minta ampun & suaranya kayak halilintar. Udah galak, kalo ngobrol dengan dia, telingaku jadi keriting, dia orang cina yang nggak bisa ngomong bahasa Inggris, terus ngomong bahasa melayu sangat terbatas dengan logat cina totok. Ampun deh. Tangisan si anak laki-laki, teriakan si nenek marahin cucu atau maidnya udah jadi ‘backsound’ sehari-hari buat kami sekeluarga. Suatu hari ceritanya aku ngirim macaroni schotel bikinan sendiri yang perasaan cantik, harum & menawan hati *apaan seh?*. Dengan sikap seramah mungkin, aku pencet deh bell pintu rumah itu, haduh…si nenek halilintar yg ngebuka pulak, dan…bener aja, dia langsung bilang “tak…tak…” sambil ngibas-ngibasin tangannya tanda menolak. Sumprit, sempet shock tuh aku. Baru deh seumur-umur ngeliat sendiri orang menolak rejeki dengan sombongnya.
Besoknya aku ketemu di lift dengan maidnya, si maid yang saudara setanah air itu bilang,” Bu, si mam nggak mau nerima kiriman makanannya karena dia nggak nerima charity”. *speechless*

Oke, itu tadi tentang kiriman yang dianter. Tapi aku juga sering banget nerima kiriman yang nggak dianter orangnya langsung, tapi aku nggak pernah nolak, karena…memang aku nggak bisa nolak. Bukannya aku orang yang nggak bisa bilang “tidak”, tapi mau gimana lagi coba kalo tiba-tiba di dalem rumah penuh dengan aroma masakan tetangga? Mending kalo baunya sesuai selera. Lha ini bau masakan india yg super spicy, kadang-kadang bau cabe menyengat dari dapur orang melayu, sering sekali bau masakan nggak halal dari dapur orang cina. Naseeb, hidup di rumah susun emang gini resikonya. Tapi harus pasrah jugakah kalo seringkali asap hasil pembakaran uang imitasi yang merupakan salah satu ritual ibadah tetangga itu nyelonong masuk rumah? Ya pasrah juga dong. Namanya juga hidup bertetangga & kebetulan tetangga kita hobi main bakar-bakaran :D

Udah lebih dari seminggu ini warga negeri kecil ini marah-marah melulu gara-gara kiriman asap dari negeri kita. Kemarahan warga sampai dimuat di headline koran terkemuka negeri. Terus pemimpinnya sampai kirim surat summon…eh…surat cinta…eh…surat teguran ke pemerintah kita tuh, komplen soal asap. Kebayang kan gimana marahnya warga sini? Lha wong dikirim makanan enak aja nolak, apalagi dikirim asap yg bikin langit seluruh negeri berwarna putih.
Dzaky mengomentari kemarahan warga karena asap ini dengan santainya, “Kenapa orang-orang itu sampai segitu marahnya ya? Kalau mereka percaya karma seperti keyakinannya, anggap aja ini karma mereka yang sering nggak peduli ngirim-ngirim asap ke tetangga. Kan bertahun-tahun tuh mereka rajin ngirim asap. Ya nggak mam?” Qiqiqiq…Dzaky…Dzaky…ada benernya juga tuh.

Tiga hari yang lalu pulang sekolah Dzaky keliatan kesel banget. Aku tanya kenapa, dia bilang lagi sebel sama temennya yg paling nerd di kelas, karena ngomong seenaknya, tapi dia udah fight back katanya.
Nerd : Indonesia sucks because of haze
Dzaky : you, keep complaining but you’re not helping, consider yourself useless
Nerd : *quiet*
Aku kaget banget. Waktu aku tanya kenapa reaksi dia sekeras itu, dia jawab, “Kalau tetangga kita tukang sate, terus asapnya sering masuk ke rumah kita, apa menolong kalo kita memaki dia? Kalo kita nggak suka asapnya, kita pindah aja, atau kita kasih uang si tukang sate supaya dia nggak jualan sate lagi & nggak ngirim asap lagi”
Ada pendapat lain selain pendapat Dzaky…?

October 15, 2006

Ngomong Dong…Ngomong!

Sejak kecil aku bicara dalam Bahasa Indonesia setengah baku. What’s that? Bahasa Indonesia baku sih…tapi hampir semua kata dengan akhiran “kan” dan “i” diganti dengan “in”, gitu juga dengan partikel, hanya dalam kondisi bercanda ato lagi puitis kalee kalo aku mengeluarkan kata-kata dengan partikel “lah, kah, tah, pun”, sehari-hari partikel yg mengiringi kata-kataku adalah “sih, dong, deh, tuh”. Belakangan setelah menikah, setelah terjadi percampuran budaya, partikel “mah, euy, atuh” juga ikut hadir. Errr….kayaknya kalo gitu sih, bukan Bahasa Indonesia setengah baku lagi ya? Mungkin seperempat baku malah… :D

Sampai SMP aku masih berbicara dalam bahasa setengah baku tadi. Di SMA, ternyata anak-anak kota itu (aku tinggal dan sekolah sampai SMP di pinggiran Kota Bandung, jadi aku anak kampung dong!), temen-temen di sekolah bicara campur aduk, Bahasa Indonesia seperempat baku yang kata ganti orang pertamanya jadi “gue” sementara kata ganti orang keduanya jadi “elo” dan seringkali juga mereka berbicara dalam Bahasa Sunda kelas pasar. Haiyyyah…gegar budaya deh aku waktu masuk SMA dulu. Puluhan cerita lucu terjadi gara-gara aku salah mengartikan kata dalam Bahasa Sunda. Walau sejak SD sampai SMP aku belajar Basa Sunda, tapi…itulah bahasa, akan menguap kalau tidak dipakai.

Ada yang baru lagi di SMA, aku dan kawan-kawan dekat sering berbicara dalam bahasa sandi yang kuncinya sering kami apdet apabila kawan-kawan diluar kelompok kami udah mulai mengendus arti kata-kata yang kami lontarkan. Waktu SMP, dengan teman dekatku, kami cukup saling mengeluarkan sandi internasional untuk inisial teman yg ingin kami gosipin. Contoh nih, aku mau bilang kalau si Tunjung hari ini keliatan cakep, aku cukup bilang, “Tango lagi cakep” atau sobatku ingin bilang kalo kecengannya, Yuliawan, belum nampak seharian, dia cukup bilang “Yankee kemana ya?” Hihihi…masih gampang ditebak banget kan bahasa sandinya?:-P
Di SMA, kreativitas aku & temen-temen selalu tertantang untuk menciptakan sandi-sandi baru. Bentar…bentar, lagi nyoba ngerecall memory nih…owiyah, untuk di awal-awal, bahasa sandi kami cukup dikasih sisipan “in” di tiap SUKU KATA yang kami ucapkan. Suku kata lho. Dan kami harus mengucapkan dengan kecepatan standar berbicara dengan Bahasa Indonesia setengah baku. Contoh nih, kami mau bicara “sebel banget deh sama si Agus” dalam bahasa sandi kami akan menjadi”sine binel sina mina sini ina ginus” sampai suatu saat, setelah berganti-ganti sandi, akhirnya muncul sandi paling heboh, dan aku serta sahabat-sahabatku menikmati sekali tatapan penuh kekaguman…eh…kebingungan temen-temen lain yang menyaksikan kami saling berbicara dalam bahasa sandi kami yg paling mutakhir itu. Masih dengan contoh kalimat yang sama “sebel banget deh sama si agus” dalam bahasa sandi mutakhir kami akan berbunyi “sesfer besfer les baiden springen esfer tes desfer hes saiden maiden sisfir aiden gusfur ses”. Hayooo…ada yang tau kuncinya nggak? Yang berhasil nebak kuncinya, aku kasih gelas cantik deh. :-P

Udah hampir 10 tahun ini (eh, atau lebih ya?) muncul bahasa gaul yang dipopulerkan oleh Debby Sahertian, ck ck ck…doi sampai menerbitkan kamusnya tuh. Untuk bahasa yang satu ini, jangankan untuk beli kamusnya, mempelajarinya aja udah males. Secara aku ibu RT yang sehari-hari bergaul dengan anaknya sendiri, PLRT di rumah, tukang sayur di pasar, masak sih harus bilang gini “mau kemandang?” waktu aku sedang bermain-main dengan Alita yang sok dandan kayak mau ke pesta pake aksesoris lengkap fake barbie. Plis dong ah, anak lagi menyerap banyak-banyak dari ibunya koq malah diajarin yang nggak baku? Atau bilang “alamak, maharaninya ini ikan” ke tukang ikan yang menawarkan harga diluar kewajaran. Bisa juling deh itu si tukang ikan. Eh…eh…eh *pake “e” pepet lho, sambil geleng-geleng kepala pula*…nggak banget kan ya? Tapi secara aku masih kontak intensif dengan sahabat sejak SMA, dan dia wanita gaul banget, jadi sedikit-sedikit aku tahu tentang si bahasa gaul ini. Nganeh-nganehin sih, tapi rasanya sangat mudah diartikan tuh, tinggal kita cermati konteks saat kata-kata aneh itu dikeluarkan.

Untuk aku yang memang hobi dengan segala macem sandi sejak SD (ceritanya kan Pramuka gitu lho), mungkin (mungkin lho) nggak terlalu susah untuk ngikutin bahasa gaul, tapi untuk orang yang kurang suka sandi-sandian pleus kurang gaul, untuk bahasa gaul yang paling sederhana sekalipun, akan susah mengartikan, walaupun kalau berdasarkan konteks, artinya sangat jelas. He he, masih agak anget nih, sempet terjadi salah paham dengan temen lama gara-gara aku nyebut “ember” untuk mengiyakan kalimat yang dia lontarkan, dimana ember tuh artinya emang. Weladalah…rupanya dia marah, dan aku baru tahu kalo dia marah ketika beberapa hari kemudian dia kontak aku dengan sms, sempet berdiskusi dikit tentang suatu hal dan dia melontarkan kata “ember” dengan tujuan menghina, berikut penegasan “kemaren dulu elo bilang ember ke gue waktu gue ngomong masalah ini, sekarang elo ngomong kayak gue juga, dasar elo ember!” Waw…rupanya kemaren dulu itu dia marah! Endingnya hepi koq, aku jelasin arti ember itu yang semula dia nyangka itu sejenis negative comment, kami sama-sama minta maaf.
Sejak itu aku berjanji untuk berusaha bicara sesuai umur, hihihi…umur segini ngomong masih kayak ABG, dan…ssstt…aku juga berdoa untuk temenku itu, semoga dia makin bisa bergaul *ngibrit….*

October 13, 2006

Tetangga Disini Tetangga Disana

Filed under: Ngedongeng

Tetangga itu buat aku adalah orang yang bertempat tinggal sampai radius 3 km dari rumahku. Orang-orang yang harus dimuliakan, karena merekalah saudara terdekatku, merekalah orang-orang yang paling duluan tahu apa yang terjadi baik di dalam maupun di luar rumahku. Tapi itu definisi masa lalu, dimana teknologi belum seperti sekarang. Jadi, apakah definisi tetangga buat aku sekarang udah berubah? Tepatnya udah nggak sama lagi, walau nggak sama sekali berubah. Tetap tetangga adalah orang-orang yg dekat secara tempat tinggal, tapi bukan berarti mereka saudara terdekat lagi. Op…op…op…bukan berarti juga aku nggak memuliakan mereka lho. Tapi orang-orang yang paling duluan tahu apa yang terjadi di dalam maupun di luar rumahku, juga saudara terdekatku adalah orang-orang yang selalu aku kontak dengan berkirim sms & bertelepon…dan mereka tinggal jauuuuh sekali dari rumahku, beribu-ribu kilometer.

Ada yang salah dengan konsepku bertetangga? Sedikit pembelaan diri, sekarang ini aku tinggal di sebuah negeri pulau yang kecil, yang serba teratur, yang sadar atau tidak aturan-aturan itu membuat hampir semua penduduknya jadi bersikap “kamu jangan ngeganggu saya karena saya pun nggak akan ngeganggu kamu” untuk hal-hal yang bersifat sangat wajar dilakukan antar sesama makhluk sosial.
Jadi aku harus realistis dong, nggak mungkin aku curhat sama tetangga, cerita hal-hal nggak penting yang terjadi di rumahku, bahkan untuk obrolan singkat tentang kondisi yang sedang sama-sama dihadapi saat berpapasan atau bertemu di dalam lift.
Tapi jangan dipikir aku juga nggak kontak sama sekali dengan tetangga-tetangga terdekatku. Kami saling mengirim makanan, saling membantu menyirami tanaman di koridor, saling senyum dan menyapa setiap kali berjumpa, diwarnai dengan obrolan sangat singkat.

Sapaan tetangga selalu jadi hal yang aku ingat setiap kali aku pindah tempat tinggal. Beda tempat tinggal, beda cara menyapa.
Sejak lahir sampai aku berumur 10 tahun, aku tinggal di kompleks tentara. Aku inget sekali, sampai dengan umur 7 tahun, tetanggakulah yg menyapa aku dengan sapaan seperti ini, “Eh Wiwie, udah mandi, udah cantik, mau kemana?” atau yang lebih sering malah “Wiwie udah sore gini koq belum mandi?”. Diatas umur 7 tahun akulah yang rajin menyapa tetangga-tetanggaku “Om mau pergi ke kantor ya?” atau “Tante lagi nyiramin bunga ya?” atau “Mbak mau berangkat sekolah ya?” atau “Mas mau olahraga ya?”
Umur 10-23 tahun aku tinggal di rumah yang menghadap ke jalan besar, sapaan tetanggaku lain lagi, mereka biasanya senyum dan kadang melambaikan tangannya ke aku saat aku berdiri di balkon yang menghadap ke jalan raya, atau kami saling melempar senyum & menganggukkan kepala saat berpapasan dan mereka akan menyapa dengan sapaan yang nyaris hampir selalu sama “Mau kemana Mbak Wiwie?”
Setelah menikah & punya anak Dzaky aku tinggal di kompleks perumahan di Bekasi, sapaan tetangga bunyinya lain lagi “Masak apa hari ini Mama Dzaky?” atau “Mau kemana Mama Dzaky?”
Punya anak Dzaky & Athaya aku tinggal di kompleks perumahan di Bandung, dimana mayoritas penghuninya warga keturunan tionghoa. Walau kompleks itu konsep awalnya adalah rumah taman, lama kelamaan hampir semua berpagar tinggi. Disini jangankan disapa, untuk menyapa tetangga aja susah banget, semua orang seperti menghindari kontak mata, atau pura-pura sibuk dengan setirnya, kalo lagi di dalem mobil, atau pura-pura sibuk dengan sepatu olahraganya, kalo pas kebetulan papasan saat berolahraga. Heran deh itu orang-orang. Tapi juga bukan berarti aku jadi nggak pernah saling menyapa. Aku tetap saling menyapa, bukan dengan tetangga, tapi dengan satpam kompleksku. Biasanya mereka akan menyapa saat membukakan gerbang kompleks, “Pagi Bu”, dan aku akan membuka kaca jendela mobilku sambil menjawab “Pagi juga Pak …”
Di sini nih, di negeri pulau ini, sapaan beragam, tergantung ras si penyapa. Kalo orang Melayu akan menyapa “Nak pegi mana?”, orang India jarang sekali menyapa, tapi kalo pun menyapa, mereka pake sapaan standar bahasa inggris “Good morning” atau gud2an lainnya, orang Cinanya dong…seru…kalo yang udah umur 40 tahun ke atas, kapan aja papasan, apa pun kondisinya, akan menyapa dengan sapaan “Sudah makan?” Weleh…

Hidup Terpisah itu Perih, Jenderal…

Filed under: Curhat

Terpisah, berpisah, perpisahan kayaknya nggak pernah ada yg menginginkan, apalagi kalo dengan orang yg kita cintai. Janganlah bicara soal perpisahan dgn penyakit, utang, kesusahan, dll lho ya, itu sih semua juga ogah deh dipertemukan.

Udah hampir setengah tahun ini aku & anak-anak hidup terpisah dengan suami dan juga ayahnya anak-anak. Nggak full 5 bulan sih, 1,5 bulan sekali A’Bubun nengokin aku & anak-anak. Sampai saat ini semua berjalan sesuai rencana, aku ngejalanin hidup di negeri pulau ini dengan anak-anak sampai mereka menyelesaikan level/grade sekolah yg sekarang bulan depan, A’Bubun duluan pindah, nyiapin tempat tinggal & sekolah anak-anak di negeri baru itu, dan bulan depan atau 6 bulan setelah kepindahannya Insya Allah kami semua akan berkumpul di negeri padang pasir.

Rencana itu aku yg mencetuskan dan rasanya udah nyiapin mental untuk menghadapi segala resikonya. A’Bubun pergi dengan perasaan campur aduk, bahagia & semangat dengan pekerjaan baru di perusahaan baru dan di negara baru sekaligus sedih, kuatir & waswas meninggalkan aku & anak2 di negeri orang. Saat A’Bubun berangkat, aku berusaha keras untuk meyakinkan dia bahwa aku & anak-anak akan baik-baik saja karena kami menghadapi segalanya dengan penuh optimisme. Aku menolak tawaran A’Bubun untuk mempekerjakan seorang PLRT, karena aku yakin bisa menghandle semuanya, toh aku udah punya part time maid yg ngebantu nyetrika baju & bersih-bersih rumah, aku juga nggak perlu masak karena aku punya katering langganan yg ngirim masakan setiap hari kecuali sabtu & minggu. Dalam pikiranku, aku bisa menghandle segalanya, karena aku juga punya kawan-kawan dekat yg baik dan sangat bisa diandalkan di saat-saat yg tidak menguntungkan.

Semangat & optimismeku mulai rontok, tak berapa lama setelah kepergian A’Bubun ke negeri yg baru, teman-teman dekatku yang sangat baik & sangat bisa diandalkan, nyaris berbarengan pergi meninggalkan negeri pulau ini. Yahh…hidup terpisahku baru dimulai. Aku harus selalu berkompromi dengan diri sendiri manakala keletihan menghadapi anak-anak 24 jam sehari, 7 hari seminggu seringkali menggiring aku untuk meledak kapan saja. Aku juga harus berusaha memapah langkah sendiri ke tempat yang aman saat serangan pingsanku tiba-tiba datang, walau beberapa kali aku terbangun sedang terbaring di lantai dapur, menyandar lemah di wastafel kamar mandi, atau tertelungkup di atas karpet. Ya, aku pingsan tanpa seorang pun tahu…

Aku terpisah dari semuanya. Aku terpisah dari suamiku, dari keluarga besarku di tanah air, dari teman-teman baikku. Hari-hari aku jalanin dengan penuh (usaha untuk) semangat & ceria. Aku ingin anak-anakku melihat tidak ada yg berubah karena perpisahan yg walaupun sementara ini, sebetulnya sudah mulai menggerogoti semangat & optimismeku. Aku berusaha selalu memberi kabar terbaik kepada A’Bubun dan keluarga besar di tanah air, semata-mata agar mereka tidak kuatir. Yah…dalam perpisahan ini, aku selalu bersandiwara. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa aku optimis,bisa menghandle segalanya dan semua berjalan sesuai dengan rencana yang aku cetuskan…

Belajar Tanpa Tekad = Belajar yg Nggak Pernah Mulai

Filed under: Curhat

Sebel banget deh, aku tuh koq super duper pemales kayak gini ya. Kerjaan nontonin & ngagumin blog orang lain bener2 bikin aku makin minder nggak jelas utk bikin blog. Beberapa kali punya blog berakhir dengan blog yg membeku karena lupa password atau user id. Sekarang sih ceritanya udah bertekad deh, minder harus disingkirkan, lha wong blog itu kan sarana menumpahkan apa yg sedang melintas di kepala, lha kalo yg di kepala isinya cuma segitu2nya kan orang lain juga (koq orang lain sih?kan blog itu yg penting utk diri sendiri!) akan super maqlum.

Sebetulnya ingin bikin rumahnya bukan di kompleks ini lho (maaf blogsome…maaf banget), tapi berhubung disini ngeloginnya nggak ada masalah, ya udah…harus dibetah2in. Rumah kan bukan lokasinya yg penting kan, tapi penghuninya ngerasa homey ato nggak. Betul kan? Betul dong! Ya kan? Ya dong! Soal belajar bikin blog, kali Jeng Hany udah bosen deh sama requestku "ajarin ngeblog ya Han". Bu guru 1 itu emang luar biasa selalu semangat utk ngapa2in, bahkan ngajarin murid ‘kosong’ & pemales kayak aku. Tapi…mungkin karena tekadku nggak bulat, belajar bikin blog cuma jadi pending request belaka. Karena kurang tekad juga, belajar bikin blog itu jadi prioritas ke-116 *hiperbola mode on*, sementara si bu guru tetep membuka pintu kapan aja buat aku belajar. Payah…payah…dari dulu koq aku selalu jadi murid yg payah.

Muter2, kembali lagi, pokoknya kali ini aku ingin ngeblog beneran, nulis & nulis terus sebisanya apa yg ingin ditulis. Belajar emang nggak pernah kelar, selama hayat masih di kandung badan kita harus terus belajar, dan aku baru mulai belajar…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer